Perbandingan Efektivitas Antibiotik Golongan Sefalosporin Generasi Ketiga Pada Pasien Demam Tifoid Di Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2017

Rachelia Sunaryani

Abstract


Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Sekitar 21 juta kasus dan 222.000 kematian terkait tifoid terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Terapi antibiotik efektif menurunkan demam dan gejala lainnya, menurunkan mortalitas dan mencegah kekambuhan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan retrospektif untuk mengetahui antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang paling efektif terhadap pasien demam tifoid di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode 2017, dengan menggunakan uji Kruskall-Wallis. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa sefotaksim lebih efektif dibandingkan sefoperazon dan seftriakson, dimana sefotaksim dapat menurunkan suhu lebih cepat (1,71 hari) dibandingkan sefoperazon (2,16 hari) dan seftriakson (2,25 hari) serta lama rawat inap lebih cepat (2,7 hari) dibandingkan sefoperazon (3,36 hari) dan seftriakson (3,92 hari) dengan nilai p < 0,05. Sedangkan pada hari hilangnya demam tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p > 0,05) terhadap ketiga antibiotik tersebut.


Keywords


Antibiotik; Demam Tifoid; RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah

Full Text:

PDF

References


Adiputra, I. K. G. T., & Somia, I. K. A. (2017). Karakteristik Klinis Pasien Demam Tifoid di RSUP Sanglah, m, 98?102.

Alam, A. (2011). Pola Resistensi Salmonella Enterica Serotipe Typhi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS, Tahun 2006?2010. Sari Pediatri, 12(5), 0?5.

Alldredge, B. K. (2013). Applied Therapeutic: The clinial Use of Drugs (10th Edition). Lippincott Williams & Wilkins.

Feasey, N. A., Gordon, M. A. (2014). Manson?s Tropical Infectious Diseases (Twenty-third Edition).

Fithria, R. F., Damayanti, K., & Fauziah, P. (2015). Perbedaan Efektivitas Antibiotik Pada Terapi Demam Tifoid Di Puskesmas Bancak Kabupaten Semarang Tahun 2014, 1?6.

Gayatri, A. A. (2017). Profil Jumlah Leukosit dan Suhu Tubuh Penderita Demam Tifoid di RSUD Karanganyar. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Grouzard, V., Rigal, J., & Sutton, M. (2016). Clinical guidelines: Diagnosis and Treatment Manual For Curative Programmes In Hospitals and Dispensaries. M?decins Sans Fronti?res.

Innesa, C. (2013). Perbaikan Gambaran Klinis Demam Terhadap Terapi Antibiotik Pada Anak Dengan Demam Tifoid.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Lestari, dkk. (2017). Buku Ajar Farmakologi Dasar. UB Press. Malang.

Nazilah, A. A. (2013). Hubungan Derajat Kepositifan TUBEX TF dengan Angka Leukosit pada Pasien Demam Tifoid Patients with Typhoid Fever, 13(3), 173?180.

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi V. Interna Publishing. Jakarta.

Wells, B. G., Dipiro, J. T., Schwinghammer, T. L., & Dipiro, C. V. (2009). Pharmacotherapy Handbook (Sevent). United States: Mc Graw Hill Companies.

Widoyono, 2011. Penyakit Tropis: Epidemiologi. Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Edisi II. PT Gelora Aksara Pratama Penerbit Erlangga.

WHO. (2013). Guidelines on the quality , safety and efficacy of typhoid conjugate vaccines: North, (October).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


e-ISSN: 2356-4818

Powered by StatCounter

hit
counter

Lihat Detil Kunjungan